Tribunners
Orang yang Miskin
Menjadi orang miskin bukan pilihan. Sebaliknya, menjadi orang kaya merupakan status, predikat, dan eksistensi yang terus dikejar dan diwujudkan
Tetap didaulat sebagai khalifahNya. Bukan sekadar pelengkap. Bahkan diantara orang miskin yang taat dan sabar, sejatinya lebih baik di mata Allah SWT dibandingkan orang-orang kaya yang takabur, egois, dan tidak menaati amanah Allah SWT.
Mereka akan lebih dimuliakan dan diprioritaskan masuk surgaNya. Jika saja mereka yang miskin ditindas, dihina, dan dipersekusi, misalnya, maka Alquran tegas menyatakan, suatu saat akan menjadikan mereka sebagai pemimpin dan mewarisi bumi dengan iradah-Nya (QS. al-Qashash : 5).
Miskin juga bukan kodrat. Sekali lagi, itu bagian dari “amanah” dan “ujian” Allah SWT kepada tiap-tiap diri. Menjalani kondisi hidup miskin atau kaya, menurut kacamata materialitas dan pragmatisme tampak beda. Namun dalam perspektif lebih substansial, kondisi keduanya bukan hal “kontradiktif.”
Sama-sama wujud aktual dari nilai-nilai rahman dan rahim Allah SWT untuk setiap diri selaku hamba-Nya. Ada spirit dan esensialitas kehambaan yang melekat dan patut ditransformasikan.
Selama cukup intensif membawakan (ke)miskin(an) dari dan ke jalan Tuhan dibaluri kesabaran “retrospektif” dan “prospektif” sekaligus, ia akan menjadi energi kemuliaan.
Justru jika menampilkan (ke)kaya(an) secara destruktif dan disorientatif dari dan untuk “amanah” Allah SWT, tanpa disadari ia telah mencederai eksistensi dirinya maupun Allah SWT sekaligus. Naudzubillah! (*/E1)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20231227-Masmuni-Mahatma.jpg)