Tribunners
Orang yang Miskin
Menjadi orang miskin bukan pilihan. Sebaliknya, menjadi orang kaya merupakan status, predikat, dan eksistensi yang terus dikejar dan diwujudkan
Bahasa lebih lugas, ketika memohon keturunan, tiap-tiap pasangan manusia tidak lagi mempersoalkan dalam posisi kaya atau miskin. Lebih-lebih keturunan, menurut terminologi keimanan Islam, tetap dikategorikan bagian dari “kekayaan” juga di hadapan Allah SWT.
Harta dan anak-anak (al-malu wa al- banun), kata Alquran, disamping sebagai hiasan dunia, sejatinya amanah (kekayaan) dari Allah SWT yang harus dioptimalisasi sepanjang hidup. Banyak manusia terkategori miskin harta, tapi kaya akan keturunan (anak-anak).
Sebaliknya, ada yang kaya raya dari sisi harta dan tahta, tetapi miskin anak (keturunan). Wajar kalau ada yang mengambil langkah “mengadopsi” anak demi “martabat” kehidupan di hadapan Tuhan dan sesama manusia.
Karena fitrah manusia menyangkut ketaatan dan kepasrahan total kepada-Nya, maka miskin atau kaya, itu lebih mengenai “amanah” dan “ujian” dalam mengarungi kehidupan. Tidak baik ditarik-tarik terlalu ekstrem ke garis rendah dan tingginya martabat maupun derajat seseorang berkehidupan.
Miskin atau kaya, bukan satu-satunya penentu kapasitas sekaligus kualitas kehambaan dan kekhalifahan. Diperlukan kematangan, kedewasaan, dan pencerahan atas tiap diri memahami, memaknai, mentransformasi, mengaktualisasikan orientasi, spirit, nilai dan akselerasi yang disebut kaya atau miskin. Sehingga selaku hamba mampu senantiasa obyektif, konstruktif, produktif, dan edukatif berkehidupan dalam dinamika kesemestaan.
Yang miskin adalah makhluk Tuhan. Mereka yang kaya pun tetap ciptaan Tuhan. Sama-sama hamba. Tidak memiliki daya upaya kekuatan berlebih di hadapan Tuhan. Mempunyai banyak kelemahan, kekurangan, keterbatasan dan sisi-sisi parsialistik lain yang memang sulit diurutkan.
Mempertentangkan posisi dan status keduanya secara temporalistik, pragmatis, tentu tampak kurang etis. Sebab kaya dan miskin, seperti telah diuraikan di atas, merupakan “amanah” dengan nilai dan substansi luhur yang tidak bisa diabaikan.
Kaya atau miskin, bisa jadi bagian dari siklus kehidupan kehambaan yang pelan tapi pasti ikut memompa dan menginternalisasi iman sekaligus ketakwaan diri.
Miskin juga Mulia
Hidup miskin atau orang (yang) miskin, sama sekali tidak hina. Jangan sekali-kali “dihinakan.” Hidup kaya pun tidak serta merta paling layak dibanggakan atau dijadikan senjata membanggakan diri.
Orang kaya (mungkin) dicap terhormat. Tapi miskin juga mulia. Selagi dikembalikan bahwa semua itu “amanah” dan “ujian” dari Allah SWT, insya Allah, akan menjadi hal produktif dan edukatif bagi kelangsungan hidup di alam semesta.
Dalam bahasa Murtadha Muthahhari, kaya dan miskin itu bagian dari keadilan Allah SWT yang mesti diinternalisasi secara searif dan bijaksana. Mereka yang tergolong kaya, lanjut Muthahhari, memiliki “hutang budi” kepada yang miskin. Sebab dalam kepemilikan sesuatu bagi kalangan orang kaya, menurut konsep Alquran, ada hak dari mereka yang miskin (QS. adz-Dzariyat (51) : 19, 25, dan 26).
Wajar dalam Islam diajarkan bahwa siapa pun yang kaya harus sebaik dan setulus penuh menempatkan serta mengoptimalisasi keberadaan mereka yang tergolong miskin. Dalam artian, baik sebagai mitra sosial atau “cermin utuh” guna meniti dan mengembangkan tugas-tugas maslahat berkehambaan.
Tak heran bila Imam Al-Ghazali menuturkan, siapa pun diantara manusia yang diberi amanah kekayaan oleh Allah SWT., ia harus melihat dan menempatkan mereka yang miskin sebagai “nasihat” terhadap diri dan keluarganya.
Sehingga menjalani hidup tidak selalu sentimentil, tendensius, bersikap congkak, berperilaku arogan, berperangai sombong, bertingkah angkuh, apalagi sampai lupa diri dan abai akan Tuhan.
Janji agama (Islam) bagi mereka yang dikategorikan miskin (harta) di alam dunia ini cukup jelas. Tidak absurd dan tidak pula abstrak. Mereka telah dimuliakan oleh Allah SWT sebagaimana makhluk-makhluk yang lain.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20231227-Masmuni-Mahatma.jpg)