Resonansi
Si Angsa Hitam
Andi Widjajanto menganggap intelijen pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kebobolan karena tidak bisa menghalau kerusuhan.
Penulis: Ade Mayasanto | Editor: Fitriadi
Ade Mayasanto, S.Pd., M.M.
Editor in Chief
Bangka Pos/Pos Belitung
DAHULU kala saat Eropa berada di abad ke-17, semua orang meyakini bahwa semua angsa berwarna putih.
Angsa-angsa ini kerap terlihat berada di alam liar mereka. Namun, pada tahun 1697, keyakinan mereka patah.
Adalah Willem de Vlamingh, penyebab keyakinan orang Eropa soal tiada angsa berwarna putih berubah.
Willem de Vlamingh merupakan seorang kapten kapal Belanda dari Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC).
Pada tahun 1697, ia memimpin ekspedisi untuk menjelajahi pantai barat Australia.
Dalam perjalanannya, ia dan kru singgah di Sungai Swan (Swan River) di wilayah yang sekarang dikenal sebagai Perth, Australia Barat.
Di sungai itulah mereka menemukan burung besar berleher panjang, yang seluruh bulunya berwarna hitam.
Hewan ini serupa dengan angsa putih yang dikenal di Eropa.
Baca juga: Angka Bisu
Penemuan soal angsa hitam lalu dibawa ke Eropa.
Dari sinilah kemudian, muncul black swan alias angsa hitam.
Angsa hitam ini kemudian menjadi simbol bahwa sesuatu yang dianggap mustahil ternyata bisa nyata.
Waktu berlalu. Pada abad ke-18 filsuf Inggris John Stuart Mill menggunakan istilah “black swan” untuk menjelaskan kesalahan generalisasi bahwa hanya karena semua angsa yang kita lihat putih, bukan berarti semua angsa di dunia putih.
Dan pada 2007, istilah ini makin populer lewat buku Nassim Nicholas Taleb The Black Swan, yang mengaitkannya dengan kejadian langka, sulit diprediksi, tapi berdampak besar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/Ade-Mayasanto.jpg)