Senin, 1 Juni 2026

Resonansi

Si Angsa Hitam

Andi Widjajanto menganggap intelijen pemerintahan Presiden Prabowo Subianto kebobolan karena tidak bisa menghalau kerusuhan.

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Ade Mayasanto | Editor: Fitriadi
Dok. Ade Mayasanto
Ade Mayasanto, Editor in Chief Bangka Pos/Pos Belitung. 

Bayangan pria berjas gelap mengikuti langkah mereka dari kejauhan.

Tak lama, sebuah kendaraan van melintas pelan, lampunya menyorot ke arah agen. Ini bukan kebetulan. Intelijen Soviet hanya pamer kekuatan.

Ketegangan malam itu tak hanya terjadi di jalan.

Beberapa jam sebelumnya, tim administrasi lapangan juga mendapati kejanggalan.

Izin resmi untuk kendaraan pengintai ternyata sudah dikenali pihak lain.

Dokumen yang seharusnya aman bocor ke tangan Soviet. Plat nomor, identitas penyamaran, bahkan jalur komunikasi alternatif. Semuanya terendus.

KGB tampaknya telah menyiapkan perangkap.

Operasi kontra-pengawasan mereka bukan reaktif, melainkan proaktif.

Setiap langkah agen AS sudah diprediksi.

Seolah mereka telah menyiapkan cerminan, lalu dibalikkan menjadi bumerang.

Menjelang tengah malam, suasana berubah menjadi permainan kucing dan tikus.

Mobil-mobil Soviet menyalip, memperlambat, lalu menutup jalur.

Baca juga: Akal Imitasi

Agen AS mencoba bertahan, tetapi manuver musuh membuat mereka tak bisa menjaga posisi. 

Komunikasi radio penuh kode, beberapa transmisi dipotong atau terganggu.

Tidak ada peluru ditembakkan, tidak ada ledakan.

Tetapi bagi para agen, malam itu adalah pertempuran penuh.

Lawan menekan bukan dengan senjata, melainkan dengan ilusi, intimidasi, dan permainan psikologis.

Setiap langkah terasa diawasi, setiap manuver dibalas dengan kejutan.

Menjelang dini hari, operasi dinyatakan gagal.

Target hilang di dekat jalur perbatasan Austria.

Tim AS ditarik mundur dengan kerugian besar.  

Bukan hanya kehilangan jejak, tapi juga kehilangan rasa aman.

Di laporan internal, peristiwa Munchen dicatat sebagai salah satu pengalaman paling memalukan menjelang bubarnya Uni Soviet.

Di mata sejarawan intelijen, inilah bukti betapa licinnya KGB memainkan penipuan, misdirection, dan provokasi.

Ringkasan Berita:
  • Istilah Angsa Hitam: Berawal dari penemuan angsa hitam tahun 1697, istilah ini jadi simbol kejadian langka berdampak besar.
  • Peringatan Intelijen Indonesia: Kerusuhan Agustus 2025 disebut “angsa hitam” yang gagal diantisipasi, perlu koordinasi intelijen lebih kuat.
  • Pelajaran dari Operasi Munchen: KGB sukses membalik operasi AS, bukti pentingnya kesiapsiagaan menghadapi skenario tak terduga.

 

Sumber: bangkapos.com
Halaman 4/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved