Tribunners
Tahun Baru 2026 dan Tantangan Mendasar Pendidikan Indonesia
Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum, tetapi aktor utama dalam membentuk budaya berpikir dan karakter peserta didik.
Penulis: Muhammad Isnaini
(Pengamat Pendidikan dan Dekan Fakultas Sains dan Teknologi UIN Raden Fatah Palembang)
Memasuki Tahun Baru 2026, pendidikan Indonesia kembali menjadi medan refleksi sekaligus harapan.
Pendidikan tidak hanya dipahami sebagai urusan administratif—jumlah sekolah, anggaran, atau angka partisipasi—melainkan sebagai proses strategis membentuk kualitas manusia dan arah peradaban bangsa.
Di tengah bonus demografi dan visi Indonesia Emas 2045, kualitas pendidikan menjadi kunci yang tak bisa ditawar.
Pendidikan sejatinya adalah investasi jangka panjang yang menentukan apakah bonus demografi akan berubah menjadi kekuatan produktif atau justru beban sosial.
Tanpa pendidikan yang bermutu dan berkeadilan, jumlah penduduk usia produktif yang besar berisiko melahirkan pengangguran terdidik, ketimpangan sosial, serta krisis nilai.
Oleh karena itu, pendidikan harus diarahkan tidak hanya untuk mencetak lulusan yang terampil secara teknis, tetapi juga manusia yang memiliki daya pikir kritis, karakter kuat, dan kepekaan sosial.
Di titik inilah pendidikan berperan sebagai penentu arah peradaban: apakah Indonesia melangkah menuju kemajuan yang beradab atau sekadar tumbuh secara statistik tanpa kedalaman makna.
Secara kuantitatif, Indonesia menunjukkan capaian yang patut diapresiasi.
Tingkat melek huruf nasional telah melampaui 96 persen, dan angka partisipasi pendidikan dasar mendekati universal (BPS, 2024).
Namun, capaian ini belum sepenuhnya berbanding lurus dengan kualitas pembelajaran.
Pendidikan kita masih menghadapi persoalan mendasar: rendahnya kemampuan literasi dan numerasi substantif peserta didik.
Kondisi tersebut tercermin dari lemahnya kemampuan peserta didik dalam memahami bacaan secara mendalam, menalar informasi, serta menerapkan konsep matematika dalam konteks kehidupan sehari-hari.
Literasi dan numerasi masih sering direduksi menjadi kemampuan teknis membaca, menulis, dan berhitung, bukan sebagai keterampilan berpikir tingkat tinggi yang melibatkan analisis, pemecahan masalah, dan pengambilan keputusan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20260101-Muhammad-Isnaini-dosen-UIN-Raden-Fatah.jpg)