Breaking News:

Opini

Miskonsepsi versus Konsep Untuk Mencapai Tujuan Pendidikan

Belajar menjadi milik pengajar. Karena tidak dilibatkan, murid tidak mempunyai rasa memiliki terhadap proses belajar.

Editor: Agus Nuryadhyn
Bangkapos.com/Cepi Marlianto
ilustrasi - Seorang guru saat menerangkan materi pembelajaran kepada siswa. 

Syahrial, S.T
Pembina Kelompok Ilmiah Pelajar SMA Negeri 1 Damar
Ketua Perhimpunan Pendidik Sains Kimia Indonesia (PPSKI) Bangka Belitung

BANGKAPOS.COM -  Ada yang menggelitik pikiran diri ini saat membaca sebuah postingan di grup WA yang berbunyi “Yang dulu pernah ranking satu, sekarang jadi apa?”.

Kalimat ini membuat orang yang membacanya akan mengingat-ngingat siapa yang dulu jadi bintang di kelasnya saat sama-sama masih mengenyam bangku pendidikan.

Apa lagi bagi mereka yang sudah berumur di atas tiga puluh tahun, pasti akan segera menyadari siapa dan apa profesi sang juara kelas. Sedangkan untuk yang masih berumur dua puluh tahunan mungkin sang juara kelasnya sekarang ini sedang berproses menjadi ‘orang’.

Ternyata setelah puluhan tahun melewati masa pendidikan itu, tidak semua juara kelas menjadi ‘juara’ juga di kehidupan bermasyarakat. Memang ada yang tetap menjadi ‘juara’ namun banyak yang tidak menjadi ‘apa-apa’.

Baca juga: Fakta Ali yang Tak Tertular Usai Merawat Pasien Covid-19 Senada dengan Kisah Pendeta di Toboali

Mengingat kembali atas apa yang terjadi dengan sang juara kelas tadi, terbersit di benak kita apa yang salah dengan pendidikannya? Jangan-jangan ada miskonsepsi belajar yang dialami sang juara kelas.

Bisa jadi sang juara kelas hanya belajar hanya untuk ujian dan belajar hanya dengan menghafal dan menggunakan rumus saja.

Atau akibat dari ketidakmengertian gurunya seperti guru mengendalikan sepenuhnya proses belajar siswanya, atau guru hanya menilai keberhasilan belajar ditandai dengan nilai angka terstandar, atau penilaian belajar sepenuhnya wewenang sang guru, atau akibat dari guru yang menyamaratakan cara mengajar kepada semua siswanya, tanpa melihat kekurangan atau kelebihan masing-masing individu siswanya.

Baca juga: Batasan dan Etika dalam Kebebasan Berpendapat dan Berekspresi

Apa itu belajar ? Bila pertanyaan tersebut dilontarkan, pasti menghasilkan banyak variasi jawaban.

Sebagian akan menjawab belajar sebagai perilaku membaca buku pelajaran, mengerjakan soal, berdiskusi atau bahkan ada juga yang menjawab belajar sebagai berangkat sekolah.

Halaman
1234
Sumber: bangkapos
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved