Kamis, 16 April 2026

Opini

Miskonsepsi versus Konsep Untuk Mencapai Tujuan Pendidikan

Belajar menjadi milik pengajar. Karena tidak dilibatkan, murid tidak mempunyai rasa memiliki terhadap proses belajar.

Editor: Fitri Wahyuni
Bangkapos.com/Cepi Marlianto
ilustrasi - Seorang guru saat menerangkan materi pembelajaran kepada siswa. 

Syahrial, S.T
Pembina Kelompok Ilmiah Pelajar SMA Negeri 1 Damar
Ketua Perhimpunan Pendidik Sains Kimia Indonesia (PPSKI) Bangka Belitung

BANGKAPOS.COM -  Ada yang menggelitik pikiran diri ini saat membaca sebuah postingan di grup WA yang berbunyi “Yang dulu pernah ranking satu, sekarang jadi apa?”.

Kalimat ini membuat orang yang membacanya akan mengingat-ngingat siapa yang dulu jadi bintang di kelasnya saat sama-sama masih mengenyam bangku pendidikan.

Apa lagi bagi mereka yang sudah berumur di atas tiga puluh tahun, pasti akan segera menyadari siapa dan apa profesi sang juara kelas. Sedangkan untuk yang masih berumur dua puluh tahunan mungkin sang juara kelasnya sekarang ini sedang berproses menjadi ‘orang’.

Ternyata setelah puluhan tahun melewati masa pendidikan itu, tidak semua juara kelas menjadi ‘juara’ juga di kehidupan bermasyarakat. Memang ada yang tetap menjadi ‘juara’ namun banyak yang tidak menjadi ‘apa-apa’.

Baca juga: Fakta Ali yang Tak Tertular Usai Merawat Pasien Covid-19 Senada dengan Kisah Pendeta di Toboali

Mengingat kembali atas apa yang terjadi dengan sang juara kelas tadi, terbersit di benak kita apa yang salah dengan pendidikannya? Jangan-jangan ada miskonsepsi belajar yang dialami sang juara kelas.

Bisa jadi sang juara kelas hanya belajar hanya untuk ujian dan belajar hanya dengan menghafal dan menggunakan rumus saja.

Atau akibat dari ketidakmengertian gurunya seperti guru mengendalikan sepenuhnya proses belajar siswanya, atau guru hanya menilai keberhasilan belajar ditandai dengan nilai angka terstandar, atau penilaian belajar sepenuhnya wewenang sang guru, atau akibat dari guru yang menyamaratakan cara mengajar kepada semua siswanya, tanpa melihat kekurangan atau kelebihan masing-masing individu siswanya.

Baca juga: Batasan dan Etika dalam Kebebasan Berpendapat dan Berekspresi

Apa itu belajar ? Bila pertanyaan tersebut dilontarkan, pasti menghasilkan banyak variasi jawaban.

Sebagian akan menjawab belajar sebagai perilaku membaca buku pelajaran, mengerjakan soal, berdiskusi atau bahkan ada juga yang menjawab belajar sebagai berangkat sekolah.

Bila tidak di sekolah, maka anak tidak belajar. Jadi mari kita refleksikan kembali makna belajar dengan mengenali miskonsepsi tentang belajar.

Belajar hanya untuk ujian. Bila tidak ada ujian, maka tidak belajar. Di sekolah dan kampus, ujian dibuat jadwal berkala yang mengukuhkan ujian sebagai ritual penting.

Lahir kebiasaan SKS, sistem kebut semalam.

Upaya habis-habisan menguasai pelajaran pada malam menjelang hari ujian. Ujian selesai, belajar pun usai. Pelajaran tak diingat lagi.

Padahal dalam kehidupan, tidak ada jadwal ujian. Ujian kehidupan bisa datang sewaktu-waktu, tidak menunggu jadwal ujian tiba.

Baca juga: Kesan Menteri Dalam Negeri Tito Terhadap Belitung Terkait Kasus Covid-19, Tidak Perlu di Lockdown

Sumber: bangkapos
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Puasa : Muhasabah Kehambaan

 

Literasi Ramadan

 

Polri dan Pelayanan Publik

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved