Kamis, 16 April 2026

Opini

Miskonsepsi versus Konsep Untuk Mencapai Tujuan Pendidikan

Belajar menjadi milik pengajar. Karena tidak dilibatkan, murid tidak mempunyai rasa memiliki terhadap proses belajar.

Editor: Fitri Wahyuni
Bangkapos.com/Cepi Marlianto
ilustrasi - Seorang guru saat menerangkan materi pembelajaran kepada siswa. 

Belajar itu menghafal dan menggunakan rumus. Orientasi belajar untuk ujian mendorong pengajar mengajar dengan cara yang memastikan pelajar bisa mengerjakan ujian dengan benar dan cepat. Cara belajar tersebut adalah menghafal dan menggunakan rumus.

Selama lebih dari 12 tahun, pelajar belajar dengan cara tersebut.

Tidak heran bila pelajar mempunyai keterampilan yang khas, terampil mengerjakan ujian. Padahal banyak tantangan kehidupan tidak seragam sebagaimana ujian standar.

Pelajar butuh menalar sebelum memahami dan mengatasi tantangan kehidupan.

Kegiatan menalar merupakan hal yang penting dan harus dimiliki pelajar,

karena melalui kegiatan ini pelajar akan dapat mengolah informasi yang dibutuhkan dalam proses belajar mengajar, dengan mengaitkan informasi satu dengan lainnya yang kemudian perlu menarik kesimpulan dari pola yang ditentukan
Penilaian belajar sepenuhnya wewenang pengajar.

Karena tujuan dan cara belajar ditentukan oleh pengajar maka sewajarnya penilaian belajar ditentukan juga oleh pengajar. Pengajar yang tahu benar dan salah. Pengajar yang layak menentukan nilai dari jawaban murid.

Baca juga: Belitung Tertinggi, Ini Sebaran 278 Kasus Covid-19 di Bangka Belitung pasa 2 September

Seringkali kriteria dan cara penilaian hanya diketahui oleh pengajar.

Pelajar diharapkan menerima begitu saja hasil penilaian, meski tidak paham maknanya.

Pelajar tidak tahu perbedaan antara mendapat skor 8 dengan skor 9.

Pelajar tidak mendapat informasi tentang apa konsep yang perlu diperkuat atau cara belajar yang harus diperbaiki.

Padahal pelajar pun perlu belajar melakukan penilaian. Dalam kehidupan, pelajar dituntut bisa membedakan benar dan salah atau baik dan buruk.

Baca juga: Tarif Rapid Test Antigen di Farmalab Bandara Depati Amir Turun Jadi Rp85.000 Saja, Berlaku Besok

Berikut ini adalah miskonsepsi versus konsep pada tujuan pendidikan. Siap saat di sekolah tetapi tidak siap saat menghadapi kehidupan nyata.

Keberhasilan belajar dinilai dengan angka tetapi tidak pada kompetensinya. Ujian yang dilakukan hanya sebatas untuk mendapatkan nilai dan kelulusan bukan untuk menguatkan kebermaknaan atas apa yang sudah dipelajari.

Belajar hanya dengan menghafal saja bukan dengan menalar. Di sekolah siswa hanya dituntut kepatuhan atas peraturan yang ada bukan dituntut kemandiriannya.

Belajar bukan ujian, tapi untuk mencapai tujuan belajar yang bermakna. Belajar bukan dikendalikan pengajar, tapi disepakati bersama antara pengajar dan pelajar. Belajar bukan dengan cara yang seragam, tapi diferensiasi cara belajar.

Belajar bukan hanya menghafal rumus, tapi dinilai bersama untuk mebangun kesadaran. Belajar bukan dinilai oleh besarnya angka, tapi oleh karya yang bermakna.(*)

Sumber: bangkapos
Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

Puasa : Muhasabah Kehambaan

 

Literasi Ramadan

 

Polri dan Pelayanan Publik

 
© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved