Opini
Miskonsepsi versus Konsep Untuk Mencapai Tujuan Pendidikan
Belajar menjadi milik pengajar. Karena tidak dilibatkan, murid tidak mempunyai rasa memiliki terhadap proses belajar.
Pada hakikatnya ujian adalah untuk menguji ilmu yang telah kita pelajari dan kita serap, untuk setelahnya melanjutkan ke level selanjutnya yang lebih tinggi, dan untuk bisa menempuh dan melewati ujian tersebut, kita butuh persiapan, usaha, ketekunan, keikhlasan dan kejujuran dalam belajar, tidak hanya untuk menghadapi ujian dan mendapatkan nilai yang bagus, karena nilai hanya akan tertulis di atas kertas, yang akan kita siapkan dan kita bawa ke tengah masyarakat adalah ilmu dan pengalaman bukan nilai yang sudah kita dapat di sekolah
Kendali belajar berada pada pengajar. Karena kinerja pelaku dan manajemen pendidikan ditentukan oleh hasil ujian murid, maka proses belajar pun dikendalikan oleh pengajar.
Pengajar yang mempunyai wewenang sepenuhnya dalam menentukan strategi, aktivitas dan asesmen belajarnya. Pengajar menjadi subyek, pelajar menjadi objek.
Belajar menjadi milik pengajar. Karena tidak dilibatkan, murid tidak mempunyai rasa memiliki terhadap proses belajar.
Ketika sasaran belajar tidak tercapai, seringkali pengajar yang lebih cemas dibandingkan pelajarnya. Padahal belajar seharusnya milik pelajar, sehingga sudah sepatutnya pengajar melibatkan pelajar dalam mengatur proses belajar.
Penting untuk menumbuhkan kesadaran bahwa sekolah adalah milik bersama. Milik bersama yang di dalamnya terdapat guru, teman sejawat, kelas, meja, kursi, dan semua benda-benda lainnya yang harus dilindungi bersama.
Baca juga: Meski Tampak Tegar, Ayu Ting Ting Akhirnya Ngaku Hancur dan Stres Akibat Petisi Blacklist
Murid yang merasa memiliki sekolah akan merasa nyaman dengan teman, guru, dan kelas yang menjadi tempat belajar mengajar.
Tempat proses saling berbagi, memberikan dan menerima ilmu sekaligus media ketika guru dan murid bisa saling bekerja sama.
Pelajar mempunyai kebutuhan dan minat belajar yang sama. Pengajar bukan mengajar murid, tapi mengajar materi pelajaran.
Karena itu, pengajar tidak perlu mengenal apalagi memahami kebutuhan dan minat belajar pelajarnya.
Pengajar menggunakan 1 resep untuk kelas mana pun, siapa pun pelajarnya.
Resep yang disebut sebagai Pengajaran Langsung, proses belajar yang berpusat pada pengajar.
Padahal kenyataannya, murid butuh mengalami diferensiasi pengalaman belajar sesuai minat, cara belajar dan ketersediaan sumber belajar di sekitarnya.
Pembelajaran berdiferensiasi merupakan pembelajaran yang mengakomodasi dari semua perbedaan murid, terbuka untuk semua dan memberikan kebutuhan-kebutuhan yang dibutuhkan oleh setiap individu.
Keberagaman dari setiap individu murid harus selalu diperhatikan, karena setiap peserta didik tumbuh di lingkungan dan budaya yang berbeda sesuai dengan kondisi geografis tempat tinggal mereka.
Pembelajaran dilakukan dengan beragam cara untuk memahami informasi baru bagi semua murid dalam komunitas ruang kelasnya yang beraneka ragam, termasuk cara untuk mendapatkan konten, mengolah, membangun, atau menalar gagasan, dan mengembangkan produk pembelajaran dan ukuran evaluasi, sehingga semua murid di dalam suatu ruang kelas yang memiliki latar belakang kemampuan beragam bisa belajar dengan efektif.
Selain itu juga memastikan setiap murid di kelasnya tahu bahwa akan selalu ada dukungan untuk mereka di sepanjang prosesnya.
Baca juga: Pembangunan Penyimpnan Liquid Oksigen Dianggarkan Rp4,9 Miliar
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20210816-guru.jpg)