Selasa, 9 Juni 2026

Jamaah Islamiyah Bubar

Eks Anggota Jamaah Islamiyah Serahkan Senjata dan Bahan Peledak ke Densus 88

Eks pimpinan Jamaah Islamiyah tengah berupaya agar para mantan anggota JI menyerahkan seluruh senjata, termasuk bahan peledak kepada polisi.

Tayang:
Editor: fitriadi
TRIBUNNEWS.COM/HO
Ratusan peserta sosialisasi bubarnya Jamaah Islamiyah mengikuti acara di Hotel Aston Madiun, Minggu (4/8/2024). Sejumlah tokoh utama eks gerakan itu hadir secara langsung maupun virtual. Seperti diketahui Jamaah Islamiyah sudah resmi membubarkan diri, dan sekarang kembali ke NKRI. 

Ia menjelaskan Tahziz membawahi dua organisasi, yakni Tanzim Sirri (organisasi bawah tanah) dan Tanzim Askari (organisasi kemiliteran).

Hal itu disampaikannya saat wawancara khusus di Jakarta pada Senin (16/9/2024).

"Tanzim Sirri membawahi DPO. Tanzim Askari membawahi albas, alat, barang, dan senjata. Dan ini sudah kita serahkan kepada Densus," kata dia.

"Kita sudah laporkan daftar DPO. Bahkan DPO-nya ikut sosialisasi pembubaran JI dan kembali ke pangkuan NKRI dalam 30 sekian kali sosialisasi. Dan kita serahkan alat, barang, dan senjata," sambung dia.

Kedua, kata dia, Alwi yang berkaitan dengan keamanan dan intelijen.

Fungsi dari organisasi tersebut adalah mengamankan tokoh-tokoh kunci di dalam JI.

"Sebagaimana Anda pahami, intelijen itu juga, kita juga bekerja pada penggalangan, penggulungan, dan evasi. Sesuai dengan ilmu intelijen yang dipahami orang banyak. Ditambah ilmu-ilmu yang kita dapatkan dari kitab-kitab para ulama terdahulu," kata dia.

"Ini kita sudah laporkan ke Densus tentang nama-nama (anggota) kita yang ada di Syria, siapa saja, yang ada di Filipina, siapa saja, kemudian rincian mereka, dan Densus 88 sudah berkomunikasi dengan mereka," sambung dia.

Ketiga, kata dia, adalah Forum Komunikasi Pondok Pesantren (FKPP) yang terdiri dari puluhan pondok pesantren yang terafiliasi dengan JI dan tersebar di berbagai wilayah di Indonesia.

Ia mengatakan pihaknya telah membuka diri dengan Kementerian Agama untuk memeriksa kurikulum di pondok-pondok pesantren tersebut.

"Kita sudah membuka diri pada Kementerian Agama untuk memeriksa kurikulum kita. Kita sodorkan. Bukan kita membuka diri saja. Kita sodorkan. Kalau yang tidak sesuai dengan ketentuan hukum yang ada di Indonesia, silakan dikoreksi. Kurang apalagi?" kata dia.

Keempat, kata dia, 3T, yakni taklim, tabligh, dan tarbiyah.

Organisasi tersebut, kata dia, berkaitan dengan kegiatan dakwah yang terafiliasi dengan JI.

"Kita tidak meninggalkan masyarakat, kita bersama masyarakat. Dakwah kita berdasarkan kepada pemahaman ulama-ulama salaf. Ulama-ulama terdahulu. Berdasarkan pemahaman ahlu sunnah wal jamaah," kata dia.

"Empat organisasi ini semuanya sudah terhubung dengan Densus 88. Sudah terjalin saling kepercayaan antara eks Al Jamaah Islamiyah dengan Densus 88. Tidak ada alasan bagi siapapun, baik eksternal maupun internal, untuk bersikap skeptis meragukan kesungguhan kita," sambung dia.

Sumber: Tribunnews
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved