Kamis, 21 Mei 2026

Lawatan Sejarah Siswa MAN 1

Siswa-siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kota Pangkalpinang melakukan lawatan sejarah selama hampir seminggu perjalanan

Tayang:
ISTIMEWA
Masmuni Mahatma (Kakanwil Kemenag Provinsi Kepulauan Bangka Belitung) 

Apalagi sejarah, lanjut Hassan Hanafi, bagian dari obyek. Adapun komplementasi obyek pada masa kini, urai Hanafi (2015 : 78), merupakan eksplorasi terhadap masa lalu.

Menghidupkan sejarah, adalah bagian dari menggerakkan kesadaran untuk menelaah ulang hal-hal heroik-prestatif, bukan semata mengingat kejadian-kejadian normatif. Sejarah itu mahal dan langka. Sulit berulang-ulang. Sekali ia datang, mesti disambut dan dimaknai semaksimal mungkin, baik dari aspek materialitas hingga substansialitas.

Terlebih manusia, kata Ahmad Mansur Suryanegara (1995 : 26), di muka bumi ini punya tugas untuk menciptakan perubahan, termasuk dalam konteks sejarah.

Sebab esensi sejarah, lanjut Ahmad Mansur Suryanegara, adalah perubahan. Menghidupkan sejarah, bukan semata menyalakan kesadaran, melainkan juga benar-benar memproduktifkan perubahan. 

Lawatan sejarah siswa-siswi MAN I Pangkalpinang ini patut diapresiasi, diamplifikasi, dan diedukasi. Upaya ini merupakan bukti nyata bahwa pemikiran dan perspektif mereka mulai terbuka, bertumbuh, dan inovatif-eksploratif.

Mereka terus aktif mencerna dan mengunyah materi maupun hukum sejarah. Ini hal yang cukup membanggakan. Sebab mereka telah mengaktualisasikan dirinya secara kreatif dan produktif sebagai “aktor sejarah.”

Sehingga mereka, meminjam istilah Ahmad Mansur Suryanegara (1995 : 27), memiliki kesadaran historitas yang berkualitas. Mereka tidak akan mengambil dan menempatkan peristiwa secara fragmental, akan tetapi beranjak ke tahap integral-universal.

Mereka tidak mengunyah bahan mentah sejarah, tapi menginternalisasi hakikat dan esensi sejarah dengan optimal.

Apalagi sejarah, kata Anton Bakker (2018 : 4-5), memang menjadikan manusia sebagai obyek. Membicarakan sejarah tanpa manusia, berarti mendiskusikan “benda pasif” yang tidak akan menghangatkan apa-apa.

Meskipun di sisi lain, sejarah yang berada di tangan manusia, akan mengalami lompatan-lompatan tak terduga juga. Melalui pikiran dan ideanya, manusia tidak akan berhenti mengkomplementasi pelbagai peristiwa maupun spirit dan makna yang dikandung.

Dan sejarah, lanjut Anton Bakker, tidak hanya memberikan simple facts of the past, melainkan juga terus menerangkan kausalitas yang mengiringi.

Artinya, peristiwa historis, tidak cukup disuguhkan ke hadapan publik berupa teks, tetapi harus disambungkan serasional dan seobyektif mungkin dengan alur konteks dimana ia muncul.

Menguatkan Empati

Lawatan sejarah siswa-siswi MAN I Pangkalpinang ini sesungguhnya ikut menguatkan empati secara keilmuan dan praksis berkehidupan. Mendidik tidak semata mengutarakan atau membagikan teori dalam kelas, tetapi harus diinternalisasi melalui sikap dan aksiologi di lapangan yang amat luas.

Bahkan menuntun maupun mendidik generasi peka terhadap kejuangan dan keteladanan leluhurnya, adalah kesadaran sekaligus kehendak kolektif yang mengagumkan. Terlebih sejarah, meniru perspektif Kuntowijoyo (2013 : 3), bisa ditransformasikan melalui pendekatan etis dan estetis.

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved