Kamis, 21 Mei 2026

Lawatan Sejarah Siswa MAN 1

Siswa-siswi Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Kota Pangkalpinang melakukan lawatan sejarah selama hampir seminggu perjalanan

Tayang:
ISTIMEWA
Masmuni Mahatma (Kakanwil Kemenag Provinsi Kepulauan Bangka Belitung) 

Tidak sekadar menggairahkan dan menancapkan rasa cinta dari dan untuk keringat perjuangan serta warisan historik leluhur, tetapi menyadarkan generasi bahwa mereka hidup bersama realitas sosio-kultur dan cita-cita mulia komunitas lain.

Empati kesejarahan ini harus diintegrasikan terhadap apa yang terjadi dan sejalan dengan pengetahuan manusia maupun di luar pengetahuan manusia. Yang pertama dikategorikan sejarah subyektif, dan yang kedua disebut sejarah obyektif.

Namun demikian, keduanya selalu menyuguhkan pengetahuan kongkrit dalam batas dan ruang aktualnya masing-masing. Sebab sejarah berbeda dengan mitologi.

Meski sejarah dan mitologi dipandang sama-sama menghadirkan “kisah,” “dongeng,” “cerita,” dan “peristiwa,” tetapi sejarah lebih memberikan kepastian mulai dari aspek teknis maupun substansialis. 

Sejarah memiliki metode logis untuk pembuktian material dan esensial. Sementara mitos hanya berada pada “stimulus” agar kita dapat menyelami dan menginternalisasi makna yang hendak disentuhkan.

Empati lawatan sejarah kali ini dilengkapi sharing terbuka dan terarah oleh siswa-siswi MAN I Pangkalpinang bersama siswa-siswi MAN 2 Yogyakarta.

Dialektika historis mengalir indah. Siswa-siswi MAN I Pangkalpinang tidak hanya mencerna, meresapi dan mengambil nilai-nilai serta spirit kesejarahan Candi Prambanan maupun Keraton dari siswa-siswi MAN 2 Yogyakarta. 

Sebaliknya, mereka pun menyuguhkan lanskap Bangka Belitung yang memiliki khazanah kesejarahan tak kalah unik-heroiknya.

Mereka jelaskan keberadaan prasasti Kota Kapur di Kabupaten Bangka dan Bukit Menumbing di Kabupaten Bangka Barat yang menjadi tempat pengasingan Bung Karno, Agus Salim dan tokoh lain. Ini laku menguatkan empati historis yang layak diapresiasi.  

Di luar pemaparan akan situs atau prasasti kuno tersebut, siswa-siswi MAN I Kota Pangkalpinang bersemangat mengenalkan “batu-batu puitis” di hamparan Laut Pulau Belitung, tempat Laskar Pelangi dikreasi dan diletupkan. Ini bentuk empati siswa-siswi yang visible dan prospektus.

Tidak sekadar datang dari jauh untuk bertamu menimba ilmu, melainkan hadir tulus berbagi kesejarahan dengan semangat etik dan estetikanya sendiri. Mereka seakan telah bersiap untuk menjadi bagian dari gerak sejarah kontemporer bersama geliat digitalisasi yang semakin deras.

Atau, menjiplak istilah kritis Murtadha Muthahhari (1995 : 65), siswa-siswi lincah ini ingin menegaskan bahwa sejarah bukan pengetahuan terkait “menjadi peristiwa” belaka, melainkan pengetahuan tentang “maujud” yang kaya cipta dan karya demi keutuhan semesta. (*/E1)

Halaman 3/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved