Sekber Moderasi Beragama
Spirit dan komitmen moderatif keberagamaan, merupakan keniscayaan yang tidak bisa diabaikan
Sebab mengelola aspirasi, kreasi, orientasi, dan kehendak sosial dari beragam suku, agama, budaya, adat istiadat, dan kearifan lokal pelbagai masyarakat bukan hal mudah. Membutuhkan kematangan ideologi bernegara dan mentalitas beragama yang moderat, toleran, dan empatik.
Hanya melalui jalur ini, integrasi kebangsaan akan menjadi kenyataan sekaligus kebanggaan kewargaan. Perang berlebih antar sesama anak bangsa akan terhindar-jauhkan.
Di sisi lain, moderasi beragama juga akan menginternalisasi nilai-nilai kejujuran, keadaban, keadilan, kemaslahatan dan kedamaian. Nilai-nilai ini sejatinya merupakan “gizi” tersendiri dalam konteks kebangsaan.
Tanpa kejujuran, bangsa akan terus berada dalam cengkraman eksploitasi dan manipulasi antar kelompok, golongan, dan komunitas. Tanpa keadaban, bangsa sulit menciptakan stabilitas dan kedisiplinan.
Tanpa keadilan, bangsa juga bisa dipastikan selalu berada dalam ambigu dan keangkuhan. Kedamaian akan jauh, sementara ketenteraman akan sulit menghampiri masyarakat. Bahkan tanpa transformasi dan internalisasi nilai-nilai dimaksud, bangsa akan berjalan di atas fenomena berliku yang saling membelenggu dan mengerdilkan. Ini sangat berisiko. Tidak boleh dibiarkan.
Oleh karena itu, sekber moderasi beragama, pilihan tepat dalam rangka mengawal Indonesia dan membumikan ke-Bhineka Tunggal Ika-an. Sebab semangat dan substansi moderasi beragama antara lain, pertama, mencegah hal buruk yang mengancam keselamatan jiwa (hifdz al-nafs).
Kedua, menjunjung tinggi keadaban, dimana semangat moral dan etik kehambaan dijadikan pijakan pikir dan tindakan luhur bermasyarakat. Tidak melebarkan intoleransi dan patologisme sosial.
Ketiga, menempatkan harkat dan martabat manusia dalam interaksi kebangsaan secara rasional, proporsional, konstruktif, dan universal. Senantiasa memprioritaskan kemaslahatan kolektif dari pada kepentingan personalitas. Menghargai kemajemukan, menghindarkan diri dari egoisme komunalistik, apalagi individualisme-ekstremistik. (*/E1)
| Tingkat Indeks Demokrasi Babel 81,31 di Atas Rata-Rata Nasional, Demokrasi Dinilai Aman dan Kondusi |
|
|---|
| ASN Berintegritas |
|
|---|
| Kunci Jawaban Soal Bahasa Indonesia Kelas 7 Halaman 181 Bab VI Kegiatan 3 Kurikulum Merdeka |
|
|---|
| PPBI Pangkalpinang Siapkan Program Sosial dan Bonsai Goes to School di Bawah Kepemimpinan Baru |
|
|---|
| Kunci Jawaban Bahasa Indonesia Kelas 11 SMA Halaman 151 152 153 Kurikulum Merdeka, Materi Puisi |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/bangka/foto/bank/originals/20221230-Masmuni-Mahatma.jpg)