Kasus Ventilator RSUD Ir Soekarno

Apa Itu Ventilator, Alkes yang Sudah Setahun Hilang dari RSUP Soekarno Bangka Belitung

Ventilator adalah mesin yang berfungsi untuk membantu pernapasan pasien yang tidak bisa bernapas sendiri atau kesulitan bernapas.

|
Editor: fitriadi
Humas Unhas via Tribun Timur
VENTILATOR - Tim Peneliti Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar membuat alat bantu pernapasan yang diberi nama Venus (Ventilator Unhas). Alat bantu pernapasan (ventilator) ini dibuat untuk menunjang tugas Tim Satgas Covid-19 Unhas dalam memberikan pelayanan kesehatan pada pasien. 

Bila seperti ini, dokter akan memberikan obat penenang atau obat antinyeri agar pasien merasa lebih nyaman ketika terhubung dengan ventilator.

Kapan Harus Menggunakan Ventilator?

Ventilator umumnya digunakan untuk membantu proses pernapasan pada pasien yang tidak dapat bernapas sendiri.

Beberapa kondisi atau penyakit yang membuat pasien membutuhkan mesin ventilator meliputi:

  • Gangguan paru-paru berat, seperti gagal napas, ARDS (acute respiratory distress syndrome), asma berat, pneumonia, penyakit paru obstruktif kronis, dan pembengkakan paru (edema paru)
  • Gangguan sistem saraf yang menyebabkan kelemahan otot pernapasan, koma, atau stroke
  • Gangguan pada jantung, seperti gagal jantung, serangan jantung, atau henti jantung
  • Keracunan karbon dioksida
  • Covid-19 dengan gejala berat
  • Gangguan keseimbangan asam basa, yaitu asidosis dan alkalosis
  • Cedera berat, misalnya luka bakar luas dan cedera kepala berat
  • Syok
  • Dalam pengaruh pembiusan total, sehingga kehilangan kemampuan bernapas, misalnya pada pasien yang menjalani operasi 

Penggunaan ventilator tidak untuk mengobati kondisi-kondisi tersebut, tetapi hanya sebagai alat untuk membantu pasien bernapas.

Hal ini membuat pasien membutuhkan pengobatan dan perawatan lain selain ventilator untuk menyembuhkan atau memperbaiki kondisi pasien.

Risiko Penggunaan Alat Ventilator

Selama penggunaan alat ventilator, beberapa efek samping samping berikut ini bisa terjadi pada pasien:

  • Luka pada mulut dan tenggorokan akibat tindakan intubasi
  • Infeksi paru-paru, biasanya akibat masuknya kuman melalui selang pernapasan yang terpasang di tenggorokan
  • Cedera paru-paru dan kebocoran udara ke rongga di luar paru-paru (pneumothorax)
  • Kehilangan kemampuan untuk batuk dan menelan, sehingga dahak atau lendir pada saluran napas bisa menumpuk dan mengganggu masuknya udara
  • Keracunan oksigen
  • Selain itu, pasien yang menggunakan ventilator harus berbaring dalam waktu lama sehingga bisa meningkatkan risiko mengalami luka dekubitus. Hal ini terjadi akibat tekanan yang lama pada kulit dan gangguan aliran darah akibat tromboembolisme.

Meski penggunaan ventilator memiliki peran penting dalam perawatan pasien, risikonya pun tidak sedikit.

Penggunaan alat ventilator juga umumnya membutuhkan biaya yang besar. Makin lama pasien dirawat menggunakan ventilator, makin banyak biaya yang harus dikeluarkan.

Oleh karena itu, pasien dan keluarganya perlu memahami keuntungan dan risiko dari penggunaan mesin ini.

Jika masih merasa ragu untuk memasang ventilator, disarankan untuk berkonsultasi dengan dokter yang merawat agar mendapatkan penjelasan lebih detail.

Kapan Harus Melepas Ventilator?

Lamanya waktu pasien harus terhubung dengan ventilator tidak dapat diperkirakan. 

Berapa lama pasien perlu menggunakan ventilator dan kapan boleh melepaskannya akan ditentukan berdasarkan perkembangan kondisi pasien dan penilaian klinis oleh dokter.

Halaman
1234
Berita Terkait
Ikuti kami di
AA

Berita Terkini

Berita Populer

© 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved