Kamis, 21 Mei 2026

Tribunners

Politik Koalisi

POLITIK koalisi antar parpol pengusung calon presiden dan calon wakil presiden pada Pemilu 2024 ada yang secara resmi telah dibubarkan.

Tayang:
Penulis: iklan bangkapos | Editor: M Ismunadi
Istimewa
Dr. Masmuni Mahatma, S. Fil. I., M. Ag., Wakil Rektor II IAIN SAS BABEL 

Oleh: Dr. H. Masmuni Mahatma, S. S. Fil. I., M. Ag - Wakil Rektor II IAIN Kep. Babel 

POLITIK koalisi antar parpol pengusung calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres) pada Pemilu 2024 ada yang secara resmi telah dibubarkan.

Meskipun masih mengemuka yang penasaran dan belum mau mengapresiasi “keberuntungan” dari salah satu pasangan yang didaulat sebagai pemenang oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) selaku penyelenggara pesta demokrasi kebangsaan yang cukup mahal ini.

Dalam perspektif diskursus laiknya kompetisi, tentu fenomena demikian adalah hal biasa.

Di sisi lain, cibiran, propaganda, agitasi, klaim-klaim politik berlebihan yang sebelumnya menjadi konsumsi simpatisan atau “langganan” barisan militan dari pasangan yang terbilang “kalah,” seakan tidak jadi cerita dan bermakna apa-apa.

Sinisme, egoisme, “kapitalisasi isu” dan “anarkhisme-pergunjingan” politik yang dipertontonkan selama kampanye maupun pasca pemungutan suara, tampak semata lipstik-naratif dalam rangka membumbui syahwat politik praksis berkekuasaan.

Betapa tidak, usai penetapan pasangan capres-cawapres terpilih periode 2024-2029, ternyata politik koalisi berlanjut menjadi “lintas kawan-lawan".

Semula gagah mendeklarasikan diri sebagai lawan atau musuh, kini berangkulan hendak menjadi kawan dan menyatukan langkah demi mencicipi dan menikmati “bingkisan” kekuasaan.

Sedari awal kencang mengkritik dan menjelek-jelekkan pasangan yang baru jadi pemenang, tiba-tiba saling mengutarakan keakraban, kelebihan, dan meneriakkan perlunya persatuan serta kesatuan atasnama keutuhan berbangsa.     

Rupa Koalisi

Dari fenomena di atas, perlu diurai beda “politik koalisi” dan “koalisi politik.”

Pembedaan itu akan ikut mengilustrasikan rupa koalisi. Sebab politik koalisi, dalam hemat saya, lebih dilatari orientasi, ambisi, obsesi, kepentingan dan target politik praktis dalam konteks kekuasaan.

Ia kurang peduli spirit dan warna atau aliran sosial-budaya, ideologi kebangsaan dan keagamaannya.

Yang penting dapat memupuk kesepakatan untuk mencapai kemenangan sekaligus merebut kekuasaan praktis bernegara, jadilah politik koalisi yang dicita-citakan.

Politik koalisi, adalah proses dan jalur kolaborasi dalam rangka mencocok-cocokkan visi, misi, dan memadu-padukan orientasi politik kuasa atasnama institusi partai politik (parpol).

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
KOMENTAR

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved